Literasi Bukan Sekadar Bisa Membaca, Tapi Berani Memahami Diri

Literasi Bukan Sekadar Bisa Membaca, Tapi Berani Memahami Diri



Kita sering memaknai literasi sebagai kemampuan membaca huruf dan menulis kata.
Padahal, literasi yang paling sunyi justru sering terlupakan:
kemampuan membaca diri sendiri.

Membaca perasaan.
Membaca luka.
Membaca proses yang sedang kita jalani, meski belum rapi dan belum selesai.

Di tengah banjir informasi, target produktivitas, dan standar hidup yang terus naik, banyak dari kita pandai menyerap teks—namun gagap saat harus memahami diri sendiri.

Membaca Sebagai Ruang Aman

Bagi sebagian orang, membaca bukan sekadar hobi.
Ia adalah ruang aman.

Tempat bernaung ketika dunia terlalu bising.
Tempat menemukan kalimat yang terasa seperti berkata,
“Aku mengerti kamu.”

Dalam buku, kita belajar bahwa pengalaman manusia beragam,
dan perasaan kita bukan sesuatu yang aneh atau berlebihan.

Literasi, di titik ini, menjadi alat penyembuhan yang pelan tapi dalam.

Menulis untuk Merapikan yang Kacau

Menulis juga memiliki peran yang sama pentingnya.
Bukan untuk terlihat pintar,
tetapi untuk jujur.

Menulis membantu kita menamai apa yang selama ini hanya terasa.
Mengubah kekacauan emosi menjadi narasi yang bisa dipahami.

Di situlah literasi menjadi proses bertumbuh—
bukan sekadar keterampilan, tetapi perjalanan kesadaran.

Tentang Growing While Healing

Growing While Healing lahir dari keyakinan bahwa
kata-kata bisa menjadi jembatan antara luka dan pemahaman.

Buku ini tidak menawarkan solusi instan.
Ia menawarkan ruang untuk membaca diri sendiri, halaman demi halaman.

Di dalamnya, kamu akan menemukan refleksi tentang:

  • luka yang tidak selalu terlihat,

  • lelah menjadi kuat,

  • menghargai proses pribadi,

  • berdamai dengan masa lalu,

  • dan bertumbuh tanpa harus sempurna.

Buku ini bisa dibaca pelan,
di jeda-jeda sunyi,
atau di hari ketika kamu butuh ditemani oleh kata-kata yang tidak menghakimi.

Literasi yang Membebaskan

Literasi sejati tidak membuat kita merasa lebih unggul.
Ia membuat kita lebih sadar, lebih empatik, dan lebih manusia.

Dan mungkin, di dunia yang gemar menyederhanakan perasaan,
membaca dan menulis dengan jujur adalah bentuk perlawanan yang lembut.

Jika kamu percaya bahwa buku bisa menjadi teman bertumbuh,
bahwa kata-kata bisa menjadi tempat pulang,
Growing While Healing hadir sebagai salah satu ruang itu.

Karena bertumbuh tidak selalu butuh jawaban—
kadang hanya butuh kalimat yang membuat kita merasa dipahami.

**

Baca juga buku growing while healing. Berikut link-nya: 

http://lynk.id/diannafi/mvl17zx4kwgv

http://lynk.id/diannafi/mvl17zx4kwgv/checkout


Share:

0 Comments