Hasfa

Menerbitkan dan Menumbuhkan Kebaruan

 

Mahasiswa KKN UIN Walisongo Ajak Siswa SD Berani Bermimpi Melalui Pentingnya Pendidikan




Demak – Tawa dan semangat memenuhi ruang kelas SD Negeri 2 Tlogoweru saat mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Walisongo Semarang menggelar sosialisasi tentang pentingnya pendidikan. Kegiatan tersebut menjadi salah satu program pengabdian mahasiswa untuk menumbuhkan motivasi belajar sekaligus memperluas wawasan siswa tentang masa depan.

Agar materi lebih inspiratif, mahasiswa KKN menghadirkan Dian Nafiatul Awaliyah, S.T., M.K.P., dosen Program Studi Arsitektur Universitas Sultan Fatah (UNISFAT) Demak, sebagai narasumber.

Dalam penyampaiannya, Dian Nafiatul Awaliyah mengajak para siswa untuk tidak takut memiliki cita-cita yang tinggi. Menurutnya, setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik melalui pendidikan.

"Jangan pernah berhenti belajar hanya karena merasa berasal dari desa atau memiliki keterbatasan. Pendidikan adalah jalan yang dapat mengubah kehidupan seseorang," pesannya kepada para siswa.

Selain memberikan motivasi, Dian Nafiatul Awaliyah juga memperkenalkan salah satu kekayaan budaya Kabupaten Demak, yaitu simbol bulus di Mihrab Masjid Agung Demak. Ia menjelaskan bahwa warisan budaya tersebut bukan hanya menyimpan nilai sejarah penyebaran Islam, tetapi juga dapat menjadi media pembelajaran karakter dan kepedulian terhadap lingkungan.

Melalui kisah bulus, siswa diajak memahami pentingnya hidup sederhana, mencintai alam, serta menjaga lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama. Penyampaian materi dengan pendekatan cerita membuat suasana kelas lebih hidup. Para siswa tampak antusias menjawab pertanyaan, menyampaikan pendapat, dan berbagi pengalaman tentang lingkungan di sekitar mereka.

Bagi mahasiswa KKN UIN Walisongo, kegiatan ini menjadi wujud nyata pengabdian kepada masyarakat. Pendidikan tidak hanya dipahami sebagai proses transfer ilmu, tetapi juga upaya membangun karakter generasi muda melalui nilai-nilai agama, budaya, dan kepedulian sosial.

Mahasiswa berharap, kegiatan sederhana ini mampu menumbuhkan semangat belajar sekaligus menanamkan rasa bangga terhadap budaya lokal. Mereka meyakini bahwa ketika anak-anak mengenal sejarah daerahnya, memiliki cita-cita yang tinggi, dan peduli terhadap lingkungan, maka mereka sedang dipersiapkan menjadi generasi yang mampu membawa perubahan bagi Demak di masa depan.

Melalui kolaborasi antara mahasiswa KKN, sekolah, dan narasumber, sosialisasi ini menjadi bukti bahwa pendidikan akan semakin bermakna ketika mampu menghubungkan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat.

 

Bulus Masjid Demak dan Pendidikan Lingkungan Berbasis Kearifan Lokal




Oleh: Dian Nafiatul Awaliyah

Perubahan iklim bukan lagi sekadar isu global. Dampaknya telah dirasakan langsung oleh masyarakat Demak. Banjir rob yang terus meluas, abrasi pantai, penurunan muka tanah, hingga kerusakan ekosistem pesisir menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dengan alam sedang mengalami krisis. Berbagai upaya teknis telah dilakukan, mulai dari pembangunan tanggul hingga rehabilitasi mangrove. Namun, keberhasilan menjaga lingkungan tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik. Yang lebih mendasar adalah membangun kesadaran manusia.

Kesadaran ekologis tidak muncul secara instan. Ia tumbuh melalui pendidikan, nilai, dan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, pendidikan lingkungan perlu dikembangkan dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan kearifan lokal sebagai media pembelajaran.

Demak sesungguhnya memiliki modal budaya yang luar biasa, yakni simbol bulus di Mihrab Masjid Agung Demak. Selama ini simbol tersebut lebih dikenal sebagai bagian dari candra sengkala berdirinya masjid serta cerita yang berkaitan dengan dakwah para Wali Songo. Padahal, di tengah tantangan ekologis yang dihadapi kawasan pesisir, simbol bulus dapat dimaknai kembali sebagai media pendidikan lingkungan.

Warisan budaya sejatinya tidak pernah kehilangan makna. Yang berubah adalah cara manusia membacanya. Nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu selalu dapat direlevansikan dengan kebutuhan zaman. Dalam konteks abad ke-21, ketika dunia menghadapi krisis iklim, simbol bulus layak dipahami sebagai simbol keseimbangan antara manusia, agama, dan alam.

Bulus dikenal sebagai hewan yang hidup selaras dengan lingkungannya. Ia bergerak tenang, tidak berlebihan, serta mampu bertahan dalam perubahan kondisi alam. Nilai-nilai tersebut memiliki kesesuaian dengan ajaran Islam tentang hidup sederhana (wasathiyah), larangan berlebih-lebihan (israf), serta amanah manusia sebagai khalifah di bumi. Dengan demikian, menjaga lingkungan bukan sekadar tindakan ekologis, melainkan juga bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral.

Pemaknaan seperti ini sejalan dengan konsep eco-spirituality, yaitu pendekatan yang memandang kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari kehidupan spiritual. Dalam perspektif ini, alam bukan hanya sumber daya ekonomi, melainkan amanah Tuhan yang harus dirawat bersama. Ketika anak-anak memahami bahwa membuang sampah sembarangan, merusak sungai, atau mengeksploitasi alam secara berlebihan bertentangan dengan nilai-nilai agama, maka pendidikan lingkungan akan memiliki makna yang lebih mendalam.

Pendekatan tersebut juga sejalan dengan Education for Sustainable Development (ESD) yang dikembangkan UNESCO. ESD menekankan bahwa pendidikan harus mampu membentuk pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai yang mendukung pembangunan berkelanjutan. Pendidikan tidak cukup menghasilkan peserta didik yang cerdas secara akademik, tetapi juga warga yang bertanggung jawab terhadap lingkungan, masyarakat, dan masa depan bumi.

Dalam konteks Demak, implementasi ESD tidak harus selalu dimulai dari buku-buku teks. Simbol bulus dapat menjadi pintu masuk pembelajaran yang kontekstual. Anak-anak dapat mengenal sejarah Masjid Agung Demak, memahami pesan moral para Wali Songo, sekaligus belajar mengenai pentingnya menjaga ekosistem pesisir. Mereka dapat menggambar motif bulus, membuat cerita lingkungan, menanam pohon, membersihkan sungai, hingga melakukan pengamatan sederhana terhadap kondisi lingkungan sekitar. Dengan demikian, sejarah, agama, budaya, dan lingkungan hadir dalam satu pengalaman belajar yang utuh.

Pengalaman melakukan sosialisasi pendidikan kepada siswa sekolah dasar menunjukkan bahwa anak-anak jauh lebih mudah memahami nilai ketika disampaikan melalui cerita daripada melalui ceramah yang bersifat abstrak. Kisah tentang bulus mampu membangun rasa ingin tahu sekaligus kebanggaan terhadap identitas daerahnya. Ketika cerita tersebut dihubungkan dengan persoalan rob, abrasi, sampah plastik, dan pelestarian lingkungan, anak-anak mulai menyadari bahwa menjaga alam bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab setiap warga.

Inilah kekuatan pendidikan berbasis budaya. Cerita membangun imajinasi, simbol membangun identitas, sedangkan pengalaman membangun karakter. Ketiga unsur tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang memiliki kesadaran ekologis.

Sudah saatnya sekolah, pemerintah daerah, pengelola situs budaya, organisasi masyarakat, dan komunitas pendidikan berkolaborasi mengembangkan simbol bulus sebagai media edukasi lingkungan. Tidak hanya melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui museum edukasi, wisata sejarah, buku cerita anak, permainan edukatif, media digital, hingga festival budaya yang mengangkat tema pelestarian lingkungan. Dengan cara ini, warisan budaya tidak berhenti menjadi objek wisata, melainkan menjadi sumber belajar yang hidup.

Para Wali Songo telah membuktikan bahwa dakwah yang paling efektif adalah dakwah yang menyatu dengan budaya masyarakat. Kini, tantangan kita bukan lagi memperkenalkan Islam kepada masyarakat Jawa, melainkan menanamkan kembali nilai-nilai Islam yang mendorong manusia mencintai dan menjaga alam. Simbol bulus menjadi salah satu jembatan yang mampu menghubungkan pesan keagamaan, identitas budaya, dan kesadaran ekologis.

Di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata, kita membutuhkan lebih banyak simbol yang mampu menggerakkan masyarakat untuk bertindak. Demak sesungguhnya telah memiliki simbol itu sejak lebih dari lima abad yang lalu. Tinggal bagaimana kita membacanya kembali dengan perspektif yang sesuai dengan kebutuhan zaman.

Mungkin inilah saatnya bulus di Mihrab Masjid Agung Demak tidak hanya dipandang sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga sebagai guru yang diam. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak akan pernah dapat hidup tanpa alam. Dan ketika anak-anak belajar memahami pesan itu sejak dini, sesungguhnya kita sedang menyiapkan generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga beradab dan bertanggung jawab terhadap bumi yang diwariskan kepada mereka.

Menjadi Juri Lomba Menulis Resensi Buku



Aku sempat menunda membuka file resensi itu. Entah kenapa. Mungkin karena kupikir isinya akan sama saja—ringkasan, komentar, lalu selesai. Jadi kubuka sambil lalu, sambil minum teh yang sudah keburu dingin.

Tulisan pertama lewat begitu saja. Aku baca, paham, tapi tidak ada yang tertinggal. Seperti habis lihat sesuatu di jalan, lalu lupa lima menit kemudian.

Yang kedua, masih mirip. Sampai yang ketiga, aku berhenti. Bukan karena bagus sekali. Tapi karena ada satu bagian yang terasa… canggung. Penulisnya seperti ragu-ragu, tapi tetap ditulis. Dia bilang bukunya menarik, tapi juga membingungkan. Dia tidak yakin suka atau tidak.

Aku malah tersenyum di situ. Jarang ada yang berani menulis seperti itu di lomba.

Biasanya orang ingin terdengar yakin. Seolah-olah harus punya pendapat yang tegas, rapi, tidak goyah. Padahal membaca buku kan tidak selalu begitu.

Aku lanjut membaca tulisan-tulisan lain.

Ada yang sangat lengkap, bahkan terlalu lengkap sampai terasa seperti laporan. Ada yang bahasanya bagus sekali, tapi entah kenapa terasa jauh. Seperti sedang membaca sesuatu yang tidak benar-benar dialami.

Aku mulai capek di tengah.

Bukan karena jumlahnya, tapi karena harus terus memutuskan. Mana yang lebih baik, mana yang lebih layak. Padahal seringkali bedanya tipis sekali, dan alasannya tidak selalu bisa dijelaskan.

Aku sempat berhenti lama di satu resensi.

Bukan yang paling rapi. Tapi yang membuatku ingat bagaimana rasanya selesai membaca buku dan belum langsung tahu harus bilang apa.

Rasanya itu familiar.

Akhirnya aku isi nilai di form. Klik satu per satu. Tidak lama. Tapi sebelum menekan kirim, aku sempat melihat lagi daftar yang sudah kuberi angka.

Aneh juga. Tulisan-tulisan yang nilainya tidak terlalu tinggi justru ada yang masih kuingat. Sementara yang “sempurna”, beberapa sudah mulai kabur.

Mungkin karena yang sempurna tidak selalu tinggal. Sementara yang jujur, meskipun berantakan, kadang justru menetap lebih lama.

**

Baca novel-novel dian nafi di sini >> 

https://play.google.com/store/books/series?id=6bWJHAAAABBhqM

 ADHD, Gelisah, dan Malam yang Penuh Makna


Mira menatap lampu kamar yang temaram. Malam sudah larut, tetapi pikirannya tidak tenang. Ia ingin sholat malam, ingin membaca Qur’an, ingin dzikir, tapi pikiran terus melompat-lompat. Suara notifikasi, tugas yang belum selesai, dan kekhawatiran tentang besok membuatnya tidak bisa fokus.

Rasa bersalah mulai datang perlahan. “Kenapa aku tidak bisa khusyuk seperti teman-temanku? Kenapa selalu bolong? Apakah ibadahku sia-sia?” pikirnya. Gelisah itu hampir membuatnya menyerah.

Namun Mira menarik napas panjang, mengingat sesuatu yang ia baca di buku “ADHD, Spiritualitas, dan Lailatul Qadar”. Ia mencoba langkah kecil: tilawah satu ayat, dzikir beberapa menit, doa singkat dengan niat tulus. Ia tidak menuntut kesempurnaan, hanya hadir sepenuhnya pada setiap momen.

Yang menakjubkan, setiap langkah kecil itu terasa hidup. Gelisahnya berkurang, rasa bersalah perlahan memudar, dan ia merasakan kedekatan dengan Tuhan—bukan karena panjang ibadahnya, tapi karena hatinya hadir sepenuhnya.

Malam itu, Mira belajar sesuatu yang penting: ADHD bukan penghalang. Setiap usaha kecil, setiap doa tulus, setiap momen fokus, adalah kemenangan spiritual yang nyata.

Jika Anda atau orang yang Anda dampingi hidup dengan ADHD dan sering merasa gagal dalam ibadah, mulailah dari langkah kecil. Fokus pada hati, bukan kuantitas. Rasakan bagaimana setiap doa, sekecil apa pun, menjadi bagian dari perjalanan spiritual yang bermakna.

#ADHD #GelisahTapiFokus #LailatulQadar #TinyHabits #IbadahRealistis

link buku:

https://play.google.com/store/books/details?id=cSbIEQAAQBAJ&pli=1

Literasi Bukan Sekadar Bisa Membaca, Tapi Berani Memahami Diri



Kita sering memaknai literasi sebagai kemampuan membaca huruf dan menulis kata.
Padahal, literasi yang paling sunyi justru sering terlupakan:
kemampuan membaca diri sendiri.

Membaca perasaan.
Membaca luka.
Membaca proses yang sedang kita jalani, meski belum rapi dan belum selesai.

Di tengah banjir informasi, target produktivitas, dan standar hidup yang terus naik, banyak dari kita pandai menyerap teks—namun gagap saat harus memahami diri sendiri.

Membaca Sebagai Ruang Aman

Bagi sebagian orang, membaca bukan sekadar hobi.
Ia adalah ruang aman.

Tempat bernaung ketika dunia terlalu bising.
Tempat menemukan kalimat yang terasa seperti berkata,
“Aku mengerti kamu.”

Dalam buku, kita belajar bahwa pengalaman manusia beragam,
dan perasaan kita bukan sesuatu yang aneh atau berlebihan.

Literasi, di titik ini, menjadi alat penyembuhan yang pelan tapi dalam.

Menulis untuk Merapikan yang Kacau

Menulis juga memiliki peran yang sama pentingnya.
Bukan untuk terlihat pintar,
tetapi untuk jujur.

Menulis membantu kita menamai apa yang selama ini hanya terasa.
Mengubah kekacauan emosi menjadi narasi yang bisa dipahami.

Di situlah literasi menjadi proses bertumbuh—
bukan sekadar keterampilan, tetapi perjalanan kesadaran.

Tentang Growing While Healing

Growing While Healing lahir dari keyakinan bahwa
kata-kata bisa menjadi jembatan antara luka dan pemahaman.

Buku ini tidak menawarkan solusi instan.
Ia menawarkan ruang untuk membaca diri sendiri, halaman demi halaman.

Di dalamnya, kamu akan menemukan refleksi tentang:

  • luka yang tidak selalu terlihat,

  • lelah menjadi kuat,

  • menghargai proses pribadi,

  • berdamai dengan masa lalu,

  • dan bertumbuh tanpa harus sempurna.

Buku ini bisa dibaca pelan,
di jeda-jeda sunyi,
atau di hari ketika kamu butuh ditemani oleh kata-kata yang tidak menghakimi.

Literasi yang Membebaskan

Literasi sejati tidak membuat kita merasa lebih unggul.
Ia membuat kita lebih sadar, lebih empatik, dan lebih manusia.

Dan mungkin, di dunia yang gemar menyederhanakan perasaan,
membaca dan menulis dengan jujur adalah bentuk perlawanan yang lembut.

Jika kamu percaya bahwa buku bisa menjadi teman bertumbuh,
bahwa kata-kata bisa menjadi tempat pulang,
Growing While Healing hadir sebagai salah satu ruang itu.

Karena bertumbuh tidak selalu butuh jawaban—
kadang hanya butuh kalimat yang membuat kita merasa dipahami.

**

Baca juga buku growing while healing. Berikut link-nya: 

http://lynk.id/diannafi/mvl17zx4kwgv

http://lynk.id/diannafi/mvl17zx4kwgv/checkout


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Daftar Blog Saya

  • DeMagz
  • dian nafi
  • Hasfa
  • hybrid writerpreneur
  • writravelicious

Popular Posts

  • 21 Pertanyaan Untuk Kreator Dan Inovator
  • Memanfaatkan GoMassage Supaya Fresh Lagi
  • NanoWrimo Help Novelist
  • Review Generasi Copy Paste
  • Gratitude Journal 2021 #DNevents
  • Arsitektur Nusantara Yori Antar
  • Desain Rumah Tinggal Blambangan
  • Arsitektur Nusantara Mengkini dan Menanti
  • ADHD, Gelisah, dan Malam yang Penuh Makna
  • Gratitude Journal 2022 Dian Nafi

Most Popular

Review Generasi Copy Paste

Review Generasi Copy Paste

21 Pertanyaan Untuk Kreator Dan Inovator

21 Pertanyaan Untuk Kreator Dan Inovator

Popular Posts

  • Review Generasi Copy Paste
    Review Generasi Copy Paste kiriman pembaca Alhamdulillah senang sekali saat membaca review dari pembaca lagi. Kali ini dari mizukem...
  • 21 Pertanyaan Untuk Kreator Dan Inovator
    21 Pertanyaan Untuk Kreator Dan Inovator  Ide sesungguhnya mudah dan gratis, eksekusinya yang mahal dan sulit. Bukan saja karena mem...
  • Bengkel Jiwa
    Bengkel Jiwa Sebuah buku yang sengaja dalam tutur bahasanya seolah mengajak pembaca untuk berimajinasi mengendarai mobil, terinspirasi...
  • Memanfaatkan GoMassage Supaya Fresh Lagi
    Seru banget waktu harus mlipir sebentar dari acara Solo city tour bareng grup Coding Mum kemarin ke acara meet up di Hotel Swiss Belinn ...
  • NanoWrimo Help Novelist
    NanoWrimo Help Novelist Menulis kalau nggak dipaksa seringkali gak bakal rampung. Nanowrimo adalah program internasional yang sangat ...
  • Gratitude Journal 2022 Dian Nafi
    Gratitude Journal 2022 Dian Nafi   Nih dia list gratitude jurnal tahun-tahun sebelumnya: #DNevents 2021 #DNevents 2020 #DNEvents 2019 #DNEve...
  • Renungan Kanjuruhan
     Renungan Kanjuruhan Nggak ngerti dari mana harus memulai tulisan ini. Ada banyak sekali pikiran berkecamuk, banyak sekali perasaan bercampu...
  • Mahasiswa KKN UIN Walisongo Ajak Siswa SD Berani Bermimpi Melalui Pentingnya Pendidikan
      Mahasiswa KKN UIN Walisongo Ajak Siswa SD Berani Bermimpi Melalui Pentingnya Pendidikan Demak – Tawa dan semangat memenuhi ruang kelas SD...

Cari Blog Ini

Events

  • Events 2022
  • Events 2021
  • Events 2020
  • Events 2019
  • Events 2018
  • Events 2017
  • Events 2016
  • Events 2015
  • Events 2014
  • Events 2013
  • Events 2011-2012

Archive

  • ▼  2026 (5)
    • ▼  Agustus (2)
      • Mahasiswa KKN UIN Walisongo Ajak Siswa SD Berani B...
      • Bulus Masjid Demak dan Pendidikan Lingkungan Berba...
    • ►  Juni (1)
      • Menjadi Juri Lomba Menulis Resensi Buku
    • ►  Maret (1)
      • ADHD, Gelisah, dan Malam yang Penuh Makna
    • ►  Januari (1)
      • Literasi Bukan Sekadar Bisa Membaca, Tapi Berani M...
  • ►  2025 (19)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2024 (25)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2023 (32)
    • ►  Desember (5)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2022 (36)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (9)
    • ►  September (15)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2021 (31)
    • ►  Desember (12)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2020 (89)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  Juli (12)
    • ►  Juni (9)
    • ►  Mei (9)
    • ►  April (38)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2019 (61)
    • ►  Desember (11)
    • ►  November (6)
    • ►  Oktober (24)
    • ►  September (7)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2018 (46)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (8)
    • ►  Oktober (14)
    • ►  September (9)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (6)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2017 (108)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (7)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (11)
    • ►  Juli (4)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (57)
    • ►  Maret (13)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2016 (36)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (29)
  • ►  2015 (1)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2014 (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2013 (1)
    • ►  September (1)

Make a Difference with Education

Make a Difference with Education

Pages - Menu

  • Hasfa Institute
  • Hasfa Architecture Consultant
  • Hasfa Books & Publishing
  • About and Contact Hasfa

Hasfa

Menerbitkan dan Menumbuhkan Kebaruan

Novel K-San

Novel K-San

Categories

Buku 122 arsitektur 89 Pelatihan 58 Novel 53 tips 34 cerpen 15 perempuan 12 pesantren 11 motivasi 10 puisi 10 pengembangan diri 8 enterpreneurship 7 spiritual 7 novela 4 anak 2 komik 2

Advertisement

Responsive Advertisement
  • Home
  • Books
  • _Fiksi
  • __Cerpen
  • __Novel
  • __Puisi
  • _Non Fiksi
  • _Cerita Anak
  • _Fantasi
  • Institute
  • Arsitektur
  • Foundation
  • Contact

Advertisement

AD BANNER
  • Home
  • Kelas Blog to Book
  • Kelas Writerpreneurship
  • Kelas Memoir Biografi
  • Kelas Artikel
  • Kelas Creative Writing
  • Kelas Novel
  • Kelas Cerpen
  • Kelas Menulis Fiksi
  • Kelas Penerbitan
  • Kelas Menulis Buku
  • Kelas Enterpreneurship
  • Kelas Puisi
  • Kelas Script Film

hasfriends

hasfriends

Tags

  • Kelas
  • Pelatihan
  • event
  • fiksi
  • non fiksi
  • puisi
  • review
  • tips

Hasfa Institute

  • Kelas Blog
  • Kelas Content Writing
  • Kelas Copy Writing
  • Kelas Digital Marketing

Copyright © 2016 Hasfa. Created by OddThemes